Mandeg

29 Dec 2011

Pikiran tak bisa diajak kompromi untuk menghasilkan sebuah karya?. Untuk orang yang terbiasa melahirkan oretan-oretan artikel, opini dan semacamnya, suasana mandeg adalah hal paling membosankan. Maka tak jarang kebanyakan penulis pemula maupun profesional, ketika suasana hening mencekam dalam suatu tempat pada suatu kesempatan, dari mereka lebih banyak memilih tempat sepi dan cerah yang berpotensi menghasilkan ide lagi, dan bisa menyegarkan kinerja otak.

Bagi penulis besar, mandeg dalam mendapatkan ide adalah hal paling menakutkan. Oleh karena itu, penulis identik dengan membaca yang banyak. Sudah menjadi rahasia umum, kalau mau menulis maka kunci utamanya adalah membaca sebanyak-banyaknnya apa yang bisa dibaca, dimana saja dan kapan saja.

Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan. Banyak orang bilang kalau membaca itu bisa membuka jendela dunia, tapi kalau membaca kemudian diiringi dengan menulis, kita (yang penulis) bukan saja sekedar bisa membuka jendela dunia, tapi juga bisa membukakan jendel dunia untuk orang lain dengan tulisan kita. Betapa besar pahala kita (asal menulisnya diniatkan untuk ibadah).

Kita mungkin tak pernah membayangkan betapa bahagianya orang yang bisa membaca karya kita kemudian bisa mengambil manfaat dari karya yang kita tulis. Ini banyak dirasakan oleh pembaca yang begitu apresiatif dengan kehadiran karya kita, dan tentunya semua itu harus dibangun dengan idealisme tinggi dalam dunia kepenulisan kita.

Lagi lagi kita dituntut meniatkan apa yang ditulis itu semata-mata demi beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa, niscaya suasana/perasaan/ide mandeg lebih kecil kemungkinan untuk menghampiri hari-hari berkaya kita. Kita harus yakin dibalik itu semua ada kekuatan magis (rahmat Tuhan) yang dapat membantu kita untuk tetap berkarya.


TAGS Menulis Ibadah


-

Author

Follow Me