Revitalisasi Pendidikan Agama di Kota Surabaya

7 Jan 2012

Maraknya pelacuran yang didalangi anak SMK di kota Surabaya belakangan ini membuat wali kota Surabaya Tri Rismaharini berang dan langsung menjebloskan pelakunya (meski masih berstatus siswa) langsung ke penjara, karena sebagian dari mereka adalah pemain lama. Itu menandakan beberapa kali peringatan dan pencerahan yang dilkukan oleh Tri Rismaharini dan pihak kepolisian diabaikan begitu saja.

Kasus pelacuran di kalangan siswa ini semakin memperkuat eksistensi citra kota Surabaya sebagai lahan subur dalam bisnis birahi menyusul kepopuleran tempat pelacuran terbesar se-Asia tenggara, Dolly. Surabaya adalah kota metropolitan yang rentan dengan berbagai penyimpangan seksual dikarenakan makin terkikisnya moral generasinya.

Kota Surabaya yang dikenal sebagai kota industri seringkali mengenyampingkan pendidikan agama dalam sistem pendidikannya. Entah karena tuntutan yang begitu keras dan tantangan hidup yang selalu mengedepankan materi dan semacamnya, sehingga kebutuhan pelajar-pelajar di kota lebih berorientasi pada pembelajaran bersifat duniawi dan ilmu-ilmu pasti lainnya.

Masalah moralitas di kalangan pelajar di kota Surabaya selalu menjadi isu yang tak pernah menemukan jalan keluarnya. Berbagai cara dilakukan, mulai memberi peringatan hingga memenjarakan secara langsung, namun hal itu seakan tidak membuahkan hasil. Ini mengindikasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan di kalangan pelajar dewasa ini telah memudar. Sekaligus menjadi sinyal ketidakberhasilan sistem pendidikan nasional dalam pembinaan keimanan dan ketakwaan di sekolah.

Pendidikan agama yang dilaksanakan di sekolah-sekolah Surabaya selama ini dirasa tidak dapat memberikan bekas yang cukup berarti dalam memperbaiki moral remaja Surabaya. Kekurangan jam pelajaran agama di sekolah-sekolah umum terutama sekolah negeri dianggap sebagai faktor utama dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama. Karena itu para pelajar tidak mempunyai bekal yang cukup memadai untuk mengcounter dan membentengi diri dari berbagai pengaruh negatif globalisasi yang ada saat ini.

Kegagalan pendidikan agama sebenarnya dikarenakan kurangannya jam atau metode dan kurikulumnya yang tidak tepat. Jika penambahan jam pelajaran agama memang dibutuhkan, perlu kajian yang lebih mendalam dengan pihak-pihak terkait, terutama dengan BSNP dan Kemendiknas. Karena dengan adanya penambahan jam pelajaran maka konsekuensinya beban jam belajar siswa akan bertambah atau akan mengurangi jam pelajaran lainnya. Dan jika metode serta kurikulumnya tidak tepat,maka penambahan pelajaran agama juga tidak akan efektif.

Bukti nyata dari kegagalan itu adalah moral remaja Surabaya dan realita pendidikan nasional saat ini, khususnya negeri masih jauh sekali dari nilai-nilai luhur dalam membangun mental anak didikanya; integrasi pendidikan agama ke dalam sistem pendidikan nasional masih sangat jauh dari harapan. Ketimpangan ini kemudian menciptakan generasi individualis yang tak peka lingkungan.

Padahal tujuan utama diselenggarakannya pendidikan adalah untuk mendewasakan manusia melalui proses belajar-mengajar. Baik guru dan khususnya anak didik. Tolak ukur kedewasaan peserta didik disini dapat dilihat dari kematangan dalam berfikir, bersikap dan bertindak. Jadi sistem penilaian terhadap siswa tidak sebatas pada angka yang cukup dikerjakan di lembar-lembar soal ujian semata.

Sistem pendidikan yang dibutuhkan sekarang guna menyikapi penyimpangan-penyimpangan seksual di kota Surabaya ini bukanlah sistem pendidikan yang sebatas meningkatkan kapasitas intelektual anak didik saja, tapi juga membentuk manusia seutuhnya sehingga dapat menghasilakan output berkualitas secara keilmuan dan keimanan dari sebuah proses pendidikan yang dapat mentransformasikan pengetahuan yang diserapnya untuk memperbaiki masyarakat di sekitarnya.

Pendidikan menurut Muhammad Abduh adalah sebuah upaya pembentukan pribadi yang mempunyai struktur jiwa yang seimbang, yang tidak hanya menekankan pekembangan akal tetapi juga perkembangan spiritual. Opsi yang diajukan Muhammad Abduh ini lebih menekankan pada sistem pendidikan dua arah yang saling berkaitan, yaitu agama dan ilmu pengetahuan.

Kasus ini harus ditangani sedini mungkin dengan cara memulai dari bangku sekolah, yaitu optimalisasi mata pelajaran agama di setiap-setiap sekolah. Karena pada hakikatnya fungsi pendidikan tidak hanya sebagai kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup, tapi tujuan utama dari pendidikan itu adalah mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.

Maka dalam sistem pendidikan di sekolah-sekolah dalam penerapan pembelajaran agama yang perlu dikoreksi dan diperbaiki menurut hemat Jazuli Juwaini, MA (Anggota Komisi VIII DPR RI) adalah perubahan orientasi, juga fokus pengajaran agama yang semula bersifat subject matter oriented (berpusat pada pemberian pengetahuan agama) sesuai kurikulum menjadi pengajaran agama yang beorientasi pada pengalaman dan pembentuk sikap keagamaan melalui pembiasaan hidup sesuai ajaran agama.

Selain itu juga perlu adanya penambahan jam pelajaran agama yang dapat diberikan di luar kurikulum yaitu dalam kegiatan ekstrakulikuler. Kegiatan ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga penekanan utamanya adalah pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari. Yang terakhir adalah pelaksanaan kurikulum yang terintegrasi antara pelajaran umum dan pelajaran agama. Dengan ini, pendidikan agama tidak hanya dilaksanakan pada pelajaran agama saja, tapi juga dapat diintegrasikan ke pelajaran lain seperti biologi, fisika, geografi, sejarah, dll. Maka proses pembelajaran akan berorientasi kepada siswa (student centris).

Artikel ini diikut sertakan dalam lomba (menulis) BlogEkspresi Blogger Indonesia” di dBLOGGER Suroboyo atas kerjasama blogdetik.com dengan internetsehat.org


TAGS Ekspresi Blogger Indonesia


-

Author

Follow Me